Posted by: LadyGAN | 22 February 2012

Everybody Can Be a Hero with Young Blood For Life Indonesia

Menjadikan donor darah sebagai life style.

Sepertinya bukan hal yang mudah, tapi bukan tidak mungkin.

Pesan yang disampaikan oleh Young Blood For Life (Young BFL) Indonesia tersebut menumbuhkan hasrat menulis saya di sela kesibukan kantor hari ini.

Beberapa orang di Indonesia masih sibuk menanamkan pola pikir “Itu bukan tugas gue. Itu kan tugas mereka”.

Maksudnya gini…

Kalau bicara masalah donor darah, yang pertama terlintas di pikiran kita ya pasti Palang Merah Indonesia (PMI).

Nah, kalau kita sibuk mikir “itu bukan tugas gue. itu kan tugas PMI”, niat berpartisipasi LEBIH AKTIF dalam kegiatan donor darah pasti berkurang bahkan bisa lenyap.

Just do what we can do.. Make it best, so that we won’t regret it..

Blood For Life lah yang membukakan mata saya dan menghapus pola pikir tadi.

Tengok kanan kiri, browsing sana sini. Betapa banyak cara dan sarana yang bisa kita gunakan untuk menolong orang lain.

BFL adalah komunitas gerakan sosial yang bersedia menyumbangkan darahnya untuk siapa saja yang membutuhkan. BFL didirikan oleh kak @JustSilly . Tulisan di situsnya juga menginspirasi saya (www.newsilly.com). Simple nya, Young Blood For Life Indonesia adalah komunitas versi ‘anak muda’ nya laahh.

Banyak kasus di rumah sakit di Indonesia dimana PMI tidak mampu menyediakan darah yang diperlukan karena minimnya pendonor darah sukarela. Stok darah di PMI tidak sebanding dengan kebutuhan donor darah di Indonesia.

Kasusnya seperti itu. Semoga penjelasan singkat tadi bisa memperjelas mengapa dibutuhkan lebih banyak lagi pendonor darah. Kita bisa mendonorkan darah sukarela dengan atau tanpa PMI.

Kalau kita ingin menolong seseorang, sebaiknya gunakan hati dan jangan terlalu banyak berfikir. Kalau niat menolong ya menolong. titik.

Karena kalau kita sudah gunakan otak kita untuk berfikir tentang banyak hal sebelum kita menolong, terkadang pikiran itulah yang akan mengurungkan niat kita membantu orang lain.

Contohnya gini..

– Kalau kita gunakan hati kita untuk memberikan uang ke pengemis anak-anak yang kelaparan, maka uang akan langsung kita berikan dengan ikhlas.

– Nah, kalau kita terlalu banyak mikir, jadilah terlintas di pikiran kita “Ni anak kenapa ga jualan koran aja/ Ni anak mana orang tuanya/ Sekarang kan banyak koordinator pengemis yang jadikan ini sebagai bisnis/  Harusnya kan orang tuanya yang tanggung jawab/ Harusnya kan.. Harusnya kan.. dsb” Lalu ada 2 kemungkinan setelah itu: 1. Kita bantu pengemis itu; dan 2. Uangnya kita simpan rapat-rapat di dompet.

Dua keputusan tadi pernah saya alami sendiri dan saya share agar kalian mengerti.🙂

Seperti itu pula yg terjadi dengan NIAT MENJADI PENDONOR DARAH.

Kalau donor darah jadi life style, widiiihh, itu berarti sudah jadi bagian dari budaya.

Kebayang kan nanti anak muda udah ga lagi sibuk tawuran atau nongkrong di Sevel.

Mereka akan bangga bilang “Eh, kemarin gue abis donor darah.”

Mereka akan sedih bukan karena masih jomblo, tapi karena satu tahun lupa ga jadi pendonor.  😉

Menjadikan donor darah sebagai life style tampaknya butuh banyak niat di HATI dengan tambahan ide dari OTAK untuk mensosialisasikannya.

Salam,

-Lady Gan-

25 Februari 2012 - SMA 55 Jakarta. Mariii...


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: