Posted by: LadyGAN | 24 September 2012

Mixingnya Udah Aman Belum?

Kini… Banyak sekali rapper bermunculan.

Kini.. Teknologi digital memudahkan seseorang untuk membuat beat, merekam lagu, dan memasak lagu melalui proses mixing.

Namun… Tampaknya ada salah satu unsur dari proses pembuatan lagu yang kadang dilupakan oleh sebagian rapper-rapper itu. Unsur MIXING.

Saya, Lady Gan, aktivis rap yang gak bisa mixing. Tapi, saya suka berdiskusi tentang proses mixing dengan beberapa beatmaker yang bisa dibilang JAGO mixing. Kadang berdiskusi juga dengan beberapa operator mixing di studio nonhiphop.

Jadi tulisan saya ini adalah berdasarkan telinga ‘rapper’ (si yang punya lagu), sama seperti kalian mayoritas pembaca tulisan ini yang mungkin gak bisa mixing juga seperti saya, tapi PUNYA KEPENTINGAN untuk menilai hasil mixing.

Toh itu semua demi kualitas lagu kita juga kan. Gak ada salahnya belajar memahami pentingnya mixing secara AMAN.

MIXING adalah proses dimana karakter lagu dibentuk, bagaimana kedengarannya, nuansanya, rasanya, kayak apa rasa vokalnya?Apakah organik (tidak terlalu banyak efek)? Efek apa yang perlu diberikan? Bunyi kick nya mau dalem atau gimana? Penempatan vokal di kanan, kiri, center, dan sebagainya. Semuanya dimasak dalam proses mixing.

Ada yang beat-nya memiliki ‘nyawa’ nada dan sound yang layak dinikmati dan lirik rap yang bisa difahami.

Tapi sayangnya mixing yang kurang digarap ‘serius’ membuat lagu menjadi kurang layak didengarkan.

Dulu mas Anto (a.k.a Gantas ‘Rotra’ Jogja Hip Hop Foundation) yang pertama kali menjelaskan saya bagaimana cara mengetahui standar kualitas mixing. Saat itu kira-kira 10 tahun yang lalu. Penjelasan mas Anto juga dijelaskan dengan cara yang sama oleh sound engineer studio saya di Solo yaitu Boncu, gitaris salah satu band brit-pop yang kualitas mixing-nya pun patut diacungi jempol.

Begini penjelasannya…

Saat kita mendengarkan lagu di CD asli (original ya, bukan hasil free download), maka kita bisa jadikan salah satu lagu tersebut sebagai standar kualitas mixing yang ‘enak’. Tentunya kita bisa memilih lagu yang memang paling nyaman terdengar di telinga kita.

Kenapa harus CD asli? Karena CD asli tersebut sudah melalui proses mixing dan mastering dengan menggunakan berbagai software serta hardware yang baik. Ditangani pula oleh tangan ‘chef’ yang terpercaya. Mastering adalah proses penempatan tingkat gain, pengubahan sampel rate dan bitnya agar sesuai dengan bit dan sampel rate standar industri musik.

Lagu free download ditakutkan sudah mengalami penurunan gain, rate, atau bitnya (gampangnya; ukuran filenya sudah dikompres).

Namun menurut pengamatan saya, kita bisa menggunakan pula lagu hasil copy komputer dan atau free download sebagai standar. DENGAN CATATAN, kualitas lagu tersebut dijamin tidak turun dari kualitas lagu di CD aslinya.

Mixing juga tentunya disesuaikan dengan kebutuhan. Lagu yang menjadi standar mixing tadi hanya digunakan sebagai patokan volume, efek, sumber ide, dan sebagainya. Sisanya ya kreativitas si aktivis mixing (Aih bahasanya..). Kita tidak bisa menggunakan satu kombinasi dan ‘takaran’ bumbu untuk masakan yang berbeda-beda judulnya bukan? Hehe.

Ada beberapa poin dalam mixing yang bisa kita perhatikan secara mudah (bukan secara teknis ya….):

1. Balancing

Sebagai permulaan, coba perhatikan lagu yang menjadi standar BAGUS suatu proses mixing. Vokalnya terdengar seimbang dengan musik, tidak ada yang mendominasi. Kawin. Mau didengarkan via headset maupun speaker, sama-sama enak. Mantap lah pokoknya.🙂

Itu baru penilaian secara gampangnya, yaitu proporsi volume vokal dan musik. Sayang kaaan kalau beat yang sudah bagus-bagus dibuat malah ketutup sama suara vokal yang penuh power itu. Bisa saja lagu ‘perjuangan’mu itu dikira lagu ‘marah-marah’. Hehe. Atau sebaliknya. Beat yang terlalu ‘di depan’ dan melebihi suara vokal membuat pendengar tidak bisa menangkap apa yang dikatakan si rapper/vokalis. Hiks. Menyedihkan.

2. Tuning dan Effect

Nah, kalau diperhatikan lagi, kita bisa dengarkan efek-efek di lagu tertentu, seperti penggunaan EQ, reverb, delay, autotune, penempatan dan volume backing vocal, telephone, choir, studio, dan efek-efek lain yang saya gak tau namanya. Hehe. Nah, efek itulah yang membangun suasana dan karakter lagu. Efek-efek tersebut  juga dapat menutupi kekurangan rapper/vokalis layaknya foundation yang bisa menutup jerawat kita. Ada suara yang fals gak? Nada bass gak kawin nih, dan sebagainya. Semua itu bisa ditune saat mixing. Karena tuning tidak bisa dilakukan saat mastering.

Balik lagi, efek-efek itu juga harus digunakan secara proporsional. Ibarat masak, yaah jangan sampai terlalu kebanyakan garam tapi juga jangan hambar gak ada rasanya juga. Harus pas dan yummy.😉

Jadi kalau kita merasa ada yang kurang di suara kita ataupun ingin membangun lagu dengan suasana tertentu, pastikan beatmaker atau ‘tukang mixing’ kita punya stok efek. Hehe.

3. Loudness Level

Tingkat volume sound hasil mixing sebaiknya pas, tidak terlalu kencang , tidak terlalu pelan. Saya biasanya membandingkan kualitas volume lagu saya dengan beberapa lagu hip hop luar negeri. Itu cara termudah saya untuk ‘menilai’ loudness level.

4. Sound terdengar kurang bersih dan kurang lebar

Untuk poin yang satu ini, sepertinya feeling dan kenyamanan telinga akan sangat mempegaruhi penilaian. Kita bisa diskusikan ini dengan beatmaker atau mixer yang berwenang. Pasti mereka lebih tahu bagaimaan teknisnya.

Jadi…

Agar lagu kita bisa diapresiasi dengan baik oleh pendengar, ayo kita belajar ‘menilai’ hasil mixing. Bahkan tidak hanya menilai. Kita juga bisa menjadi teman diskusi para beatmaker dan atau mixer itu dengan saran/apresiasi yang positif. Lagu dengan kualitas mixing yang baik tentunya juga memudahkan lagu tersebut diputar di radio.

Ibarat masakan, akan terasa enak kalau takaran dan bahan yang digunakan tepat serta dimasak dengan cara yang benar.

Jadi laper. Hahahaha…

Kini… Social media memudahkan kita mengunduh dan mendengarkan banyak lagu rap tanah air.

Kini… Begitu mudahnya lagu di-share via internet  sehingga produktivitas seorang atau suatu grup rap bisa ‘dinilai’ khalayak luas.

Nah, oleh karena itu, sebaiknya sebelum lagu dishare ke internet, ada baiknya kita memastikan mixing lagu itu sudah ‘memuaskan telinga’ kita.

Kepuasan itu relatif. Nah, kebetulan saya aktivis rap yang gak gampang puas. Bagaimana dengan kamu?😉


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: